Photohunt Aniikhe #1

Instagram @aniikhe
“Aku sedang merindukanmu, apakah kau tahu itu? Saat bulan penuh di atas kepala, aku menggantungkan doa untukmu di antara bintang-bintang. Semoga suatu saat hatimu akan menoleh kepadaku, menyadari bahwa akulah akhir dari penantianmu.” ~ Dahlian

Selalu Ada Keceriaan Dalam Sebuah Pertemuan

Selalu ada keceriaan dalam sebuah pertemuan
Persahabatan itu tak mengenal jarak, jika kamu jauh dan merasakan rindu maka pulanglah karena kami sahabatmu akan selalu ada untuk mendengar berbagai semua keluh kesah dan bahagiamu agar kamu bisa selalu tersenyum.

Senja Candi Plaosan #1

Senja Candi Plaosan
Kenapa banyak orang menyukai senja? Karena senja dengan jingganya begitu menggambarkan hati yang sedang ditumbuhi asmara. Atau bahkan begitu menggambarkan hati yang sedang ditumbuhi nestapa. Walau tidak datang sampai fajar, kehadirannya mampu menenangkan hati sesuai suasana.

Hunting Malam Tebing Breksi #1

Foto di ambil dari Tebing Breksi 2018
Bersama bintang. Bersama bulan. Bersama langit malam. Cukup dengan melihat alam, kamu merasakan kedamaian. - Rohmatikal Maskur

Photohunt Novitaweif #1

Instagram @novitaweif
"Setelah pendekatan naif yang amatir dan kemauan untuk belajar rendah hati memudar, semangat kreatif yang baik dari fotografi akan mati. Setiap fotografer profesional harus tetap merasa di dalam hatinya sebagai seorang yang amatir." -Alfred Eisenstaedt

Festival Candi Kembar #3 2018

Festival Candi Kembar #3 2018 | Rakai Pikatan dan Pramodawardhani
Prasasti Wantil juga menyinggung perkawinan Sang Jatiningrat alias Rakai Pikatan Mpu Manuku dengan seorang putri beragama lain. Para sejarawan sepakat bahwa putri itu ialah Pramodawardhani dari Wangsa Sailendra yang beragama Buddha Mahayana, sementara Mpu Manuku sendiri memeluk agama Hindu Siwa.

Pramodawardhani adalah putri Samaratungga yang namanya tercatat dalam prasasti Kayumwungan tahun 824. Saat itu yang menjabat sebagai Rakai Patapan adalah Mpu Palar, sedangkan nama Mpu Manuku sama sekali tidak disebut. Mungkin saat itu Pramodawardhani belum menjadi istri Mpu Manuku.

Sejarawan De Casparis menganggap Rakai Patapan Mpu Palar sama dengan Maharaja Rakai Garung dan merupakan ayah dari Mpu Manuku. Keduanya merupakan anggota Wangsa Sanjaya yang berhasil menjalin hubungan perkawinan dengan Wangsa Sailendra.

Teori ini ditolak oleh Slamet Muljana karena menurut prasasti Gondosuli, Mpu Palar merupakan pendatang dari pulau Sumatra dan semua anaknya perempuan. Lagi pula, Mpu Manuku sudah lebih dulu menjabat sebagai Rakai Patapan sebelum Mpu Palar. Kemungkinan bahwa Mpu Manuku merupakan putra Mpu Palar sangat kecil.

Sementara itu, Mpu Manuku sudah menjabat sebagai Rakai Patapan pada tahun 807, sedangkan Pramodawardhani masih menjadi gadis pada tahun 824. Hal ini menunjukkan kalau perbedaan usia di antara keduanya cukup jauh. Mungkin, Rakai Pikatan Mpu Manuku berusia sebaya dengan mertuanya, yaitu Samaratungga.

Pramodawardhani bukanlah satu-satunya istri Rakai Pikatan. Berdasarkan prasasti Telahap diketahui istri Rakai Pikatan yang lain bernama Rakai Watan Mpu Tamer. Kiranya saat itu gelar mpu belum identik dengan kaum laki-laki.

Selir bernama Rakai Watan Mpu Tamer ini merupakan nenek dari istri Dyah Balitung, yaitu raja yang mengeluarkan prasasti Mantyasih (907). ~ Wikipedia